Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us

Pengikut

Minggu, 14 Desember 2008
Diposting oleh AQiLLAH



Dalam Dekapan Kabut Tanggamus May 10, 2007

Dengan ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut, Gunung Tanggamus tak sekedar gunung tertinggi kedua di Provinsi Lampung, setelah Gunung Pesagi di Kabupaten Lampung Barat. Gunung, ikon Kabupaten Tanggamus ini, menawarkan wisata petualangan yang memikat bagi mereka yang gemar mendaki.

Dalam sebuah surat-e, Asep Gustian, penggagas Yayasan Wisata Alam Lampung (Yawisal), memberi tahu saya tentang rencana mendaki Gunung Tanggamus. Gunung yang merupakan hutan kawasan seluas 40.000 hektare ini, surga hidup bagi ragam flora maupun fauna. “Minggu, 19 Maret 2006, kita bertolak ke Gunung Tanggamus,” tulis Asep.

Yawisal bergerak di bidang pemanduan wisata alam pendakian gunung. Yayasan ini baru saja digagas dan dibentuk oleh para aktivis kelompok pecinta alam di Provinsi Lampung. Tujuannya, menginventarisasi objek-objek wisata alam sekaligus mempersiapkan tenaga-tenaga pemandu wisata bagi para wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam pegunungan di Provinsi Lampung. “Lampung kaya akan objek wisata alam, tetapi informasinya masih sangat terbatas. Yawisal yang akan memeloporinya,” kata Asep.

Informasi dari Asep Gustian ini tidak saya sia-siakan. Ia juga menyinggung habitat flora dan fauna yang banyak dijumpai di hutan kawasan yang terbilang masih perawan itu. Semua informasi itu membuat keinginan lama saya untuk menaklukkan puncak Gunung Tanggamus kembali menggelora di dada.

Minggu (19/3) pagi, rombongan kami telah siap. Asep Gustian bersama Johari dan Aris Munandar, aktivis kelompok pecinta alam, yang banyak menimba ilmu dari Wanadri. Ada juga Rahmat Sudirman, Syafulloh, dan Helena Fransiska, kalangan jurnalis yang sengaja diundang untuk menikmati wisata alam di Gunung Tanggamus.

Tepat pukul 10.00, kami bertolak dari Bandar Lampung, ibu kota Provinsi Lampung. Asep memberitahu, sekitar satu setengah jam perjalanan, kami akan tiba di Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus. Dari Gisting, ada jalur tracking, merambat di kaki Gunung Tanggamus dengan kemiringan sekitar 40 derajat.

Udara di Gisting begitu bersahabat ketika kami tiba. Kami berhenti di desa terakhir, Pekon (Desa) Tanggamus, tepat di kaki Gunung Tanggamus. Kesegaran aroma pepohonan dan alam yang asri merambat menggusur aroma polusi dan hingar-bingar Kota Bandar Lampung dari dada. Saya merenguk udara itu banyak-banyak ke dalam paru-paru sambil menatap jauh ke depan, puncak Gunung Tanggamus yang diselimuti kabut tebal. Sayup-sayup raung siamang terdengar di kejauhan, karena kawasan ini termasuk salah satu habitat asli moyet tanpa ekor itu.

Basecamp Sonokeling

Asep, Johari, dan Aris, yang pernah mencapai puncak Gunung Tanggamus pada tahun 1996, memberitahu jalur tracking yang akan kami tempuh. Dari Pekon Tanggamus kami mulai pendakian, sekitar pukul 12.30 Wib. Dalam hitungan normal, sekitar 2 jam, kami akan mencapai Basecamp Sonokeling.

Basecamp ini berada di kawasan hutan sonokeling, pepohonan yang ditanam Dinas Kehutanan Provinsi Lampung 30 tahun lalu sebagai bagian dari program rehabilitasi sabut hutan kawasan Gunung Tanggamus. Hutan sonokeling ini sekaligus penunjukkan batas hutan kawasan Gunung Tanggamus yang tidak terjamah tangan manusia.

Dan benar, sepanjang perjalanan dari Pekon Tanggamus menuju Basecamp Sonokeling, kami menyaksikan bentangan kebun sayur-mayur yang luas. Lereng-lereng yang merupakan sabuk hutan kawasan, berubah menjadi areal perkebunan penduduk. Tidak jarang kami berpapasan dengan petani yang sedang panen berbagai jenis sayur-mayur seperti sawi, kol, worlel, kentang, cabai, terong, dan bawang. Daerah ini terkenal sebagai sentra sayur-mayur untuk dijual kepada para pedagang penampung yang akan membawanya ke pasar-pasar di Kota Bandar Lampung maupun ke Pulau Jawa.

Beberapa petani sempat kami ajak ngobrol, dan hal ini membuat waktu yang kami perkirakan menjadi meleset. Dua jam perjalanan yang kami perkirakan, dari Pekon Tangamus menuju Basecamp Sonokeling, ternyata molor menjadi empat jam. Kami tiba di Basecamp Sonokeling sekitar pukul 16.00 Wib. Langit mulai gelap dan raung siamang telah hilang. Perlahan kabut mulai turun, jatuh seperti selendang.

Asep memutuskan, kami bermalam dan mendirikan tenda di Basecamp Sonokeling. Basacamp ini berada pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Uap dingin kabut mulai menyengat, dan serangga-serangga malam mulai meraung. Di bawah rimbun dedauan pohon sonokeling berusia 30 tahun, kami mendirikan tenda. Kami butuh istirahat untuk mengumpulkan tenaga guna menempuh perjalanan besok pagi ke puncak Gunung Tanggamus

Sepanjang malam Asep, Johari, dan Aris berganti bercerita tentang pengalaman pertama mereka mencapai puncak Gunung Tanggamus. Cerita-cerita yang membuat keinginan saya semakin besar ingin menikmati semuanya secara langsung.

Ragam Flora dan Fauna

Pagi harinya, sekitar pukul 09.00 Wib, kami bergerak merambati lereng Gunung Tanggamus dengan kemiringin 30-40 derajat. Asep, Johari, dan Aris memberi tahu, seharusnya kami tidak membawa semua barang ke puncak agar perjalanan lebih mudah. Kami bisa meninggalkannya di Basecamp Sonokeling, sehingga perjalanan tidak terlalu dibebani. “Biasanya para pendaki meninggalkan sebagian barang-barang di Basecamp Sonokeling,” kata Asep.

Tapi, anggota rombongan menolak dengan alasan agar nuansa pendakian lebih kental. Terbayang kami mencapai puncak dengan beban yang begitu berat. Ada kesan yang luar biasa ketika beban itu sampai di puncak.

Ternyata Asep benar. Beban yang penuh, betul-betul menyusahkan dan membuat langkah kami terhambat. Medan yang kami tempuh, jalan yang berupa akar-akar pohon, udara dingin, lembah, dan batu terjal, batang-batang pohon berlumut, jauh dari jalur tracking yang sudah digambarkan Asep, Johar, dan Aris.

Menurut Asep, Aris, dan Johari, jalur tracking ke puncak Gunung Tanggamus berubah total. Sejak 1996 lalu, terkahir sekali mereka mencapai puncak Gunung Tanggamus, jalur berubah sama-sekali. Banyaknya pohon rubuh dan konstur lereng gunung yang bergeser menjadi penyebabnya. Rombongan kami berjalan sambil meraba-raba.

Semua ini memperlambat langkah kami. Apalagi Ramhat dan Helena mulai kehabisan tenaga, tersita oleh beban di punggung mereka. Belum lagi jalan yang licin karena lumut tebal, ditambah udara dingin oleh kabut yang menutupi sampai ke batang-batang pohon. Tidak jarang kami terpaksa berpegangan kepada batang-batang rotan, yang meninggalkan luka-luka goresan pada tapak tangan.

Untung sekali, sepanjang perjalanan kami dihibur ragam flora dan fauna yang menawan. Rumpun anggrek pada batang-batang pohon yang rubuh, menawarkan pesona kelopak bunganya yang indah. Kantong semar yang menggelantung, ragam jamur warna-warni, dan kicau burung-burung yang riuh. Dua ekor burung ekor kipas warna hitam, terlihat selalu mengikuti langkah kami, tiap sebentar melintas di hadapan rombongan.

Sekali-sekali anis kembang, murai ekor panjang, kutilang emas, cucak rawa, dan burung pipit menyajikan lantunan musik alam yang menawan, diperkaya warna-warni bulu mereka yang menyala. Di kejauhan, jauh di pucuk-pucuk pohon dengan diameter satu sampai tiga meter, suara rangkong berkoak.

Dan akhirnya, kami sampai di shelter 1 pada ketinggian 1.900 meter di atas permukaan laut. Istirahat dekat pohon beringin, tak sengaja saya melongok ke bawah akar pohon yang membentuk sebuah gua. Ajaib, seekor sanca batik warna kuning tanah melingkar di dalamnya. Ada khawatir hewan itu terganggu, saya menyarankan kami melanjutkan perjalanan.

Dalam Dekapan Kabut dan Malam

Dari shelter 1, Asep memperkirakan tinggal 45 menit perjalanan sebelum mencapai puncak. Terbayang puncak gunung dalam 45 menit ke depan, kami menjadi lebih bersemangat. Tapi, 45 menit berlalu, puncak tidak kunjung tercapai. Lagi-lagi, jalur tracking yang berubah menyebabkan perkiraan meleset. Ternyata puncak masih jauh, kami mengetahuinya dari jenis tetumbuhan di sekitar kami.

Tanpa terasa, kami akhirnya berada di kawasan hutan lumut dengan suhu di bawah 15 derajat celcius. Sejauh mata memandang, lumut tampak dimana-mana. Tetes air bergulir dari permukaannya, jatuh dalam bentuk paling bening. Kami bergantian menyedot air dari lumut, karena persediaan air minum telah tandas.

Batang-batang pohon yang rubuh, juga penuh lumut. Ini memperlambat perjalanan kami, karena harus ekstra hati-hati. Selip sedikit, bisa tergelincir, dan lereng gunung dengan kemiringan 50-60 derajat siap menelan kami. Belum lagi gumpalan batu cadas dan rimbun batang-batang rotan penuh duri.

Waktu terasa cepat berputar. Jarum jam bergulir pada angka 6.00, memasuki waktu Magrib. Kabut tebal mendadak turun, menutupi permukaan jalur tracking. Bersamaan dengan mengatupnya langit, malam perlahan merambat. Kami terperangkap di hutan lumut dalam dekapan kabut tebal dan malam kelam. Hal seperti ini yang kami khawatirkan, sementara puncak tak kunjung tergapai.

Tiba-tiba Asep menyarankan rombongan dibagi dua. Saya, Asep, dan Syaifulloh membentuk rombongan pertama. Kami melangkah di depan, mencoba membuka jalur tracking dalam gelap malam. Berharap bisa mencapai puncak, untuk kemudian menjemput rombongan kedua.

Udara dingin, kabut tebal, dan malam, melengkapi perjalanan kami. Asep menyebut kami telah mencapai ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. Itu artinya, tinggal 400 meter lagi dari 2.400 meter di atas permukaan laut ketinggian Gunung Tanggamus. Ini menambah semangat kami untuk mencapai puncak. Setengah berlari, Asep dan Syaifulloh melesat mendahului. Sementara saya kembali ke rombongan kedua, memberi tahu bahwa puncak telah kami capai.

“Angin segar” itu sengaja saya tiupkan. Berhasil, rombongan kedua terlihat lebih bersemangat. Setengah berlari, kami menuju puncak. Dalam hitungan menit, sampai juga akhirnya. Sepotong dataran seluas 5×12 meter, dan angin badai menyambut kami dalam gigil yang menyengat. ***

Jumat, 28 November 2008

definisi cinta..menurutku

Diposting oleh AQiLLAH

definisi cinta..menurutku

What is love, but an emotion,
So strong and so pure,
That nurtured and shared with another
All tests it will endure?

What is love, but a force
To bring the mighty low,
With the strength to shame the mountains
And halt time’s ceaseless flow?

What is love, but a triumph,
A glorious goal attained,
The union of two souls, two hearts
A bond the angels have ordained?

What is love, but a champion,
To cast the tyrant from his throne,
And raise the flag of truth and peace,
And fear of death o’erthrow?

What is love, but a beacon,
To guide the wayward heart,
A blazing light upon the shoals
That dash cherished dreams apart?

And what is love, but forever,
Eternal and sincere,
A flame that through wax and wane
Will outlive life’s brief years?

So I’ll tell it on the mountaintops,

cinta

Diposting oleh AQiLLAH

kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
ketika kita menangis?
ketika kita membayangkan?
itu karena hal terindah di dunia tdk terlihat

ketika kita menemukan seseorang yang
keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung
dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan
serupa yang dinamakan cinta.

Ada hal2 yang tidak ingin kita lepaskan,
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,
melainkan suatu awal kehidupan baru,
kebahagiaan ada untuk mereka yang tersakiti,
mereka yang telah dan tengah mencari dan
mereka yang telah mencoba.
karena merekalah yang bisa menghargai betapa
pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan
mereka.

Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu
menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya,
adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan
kamu masih menunggunya dengan setia.

Adalah ketika di mulai mencintai orang lain dan
kamu masih bisa tersenyum dan berkata
” aku turut berbahagia untukmu ”

Apabila cinta tidak bertemu bebaskan dirimu,
biarkan hatimu kembalike alam bebas lagi.
kau mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan
cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati
kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.

Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu
mendapatkan keinginannya, melainkan mereka
yang tetap bangkit ketika mereka jatuh, entah
bagaimana dalam perjalanan kehidupan.
kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri
dan menyadari bahwa penyesalan tidak
seharusnya ada, cintamu akan tetap di hatinya
sebagai penghargaan abadi atas pilihan2 hidup
yang telah kau buat.

Teman sejati, mengerti ketika kamu berkata ” aku
lupa ….”
menunggu selamanya ketika kamu berkata ”
tunggu sebentar ”
tetap tinggal ketika kamu berkata ” tinggalkan aku
sendiri ”
mebuka pintu meski kamu belum mengetuk dan
belum berkata ” bolehkah saya masuk ? ”
mencintai juga bukanlah bagaimana kamu
melupakan dia bila ia berbuat kesalahan,
melainkan bagaimana kamu memaafkan.

Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,
melainkan bagaimana kamu mengerti.
bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa
yang kamu rasa,
bukanlah bagaimana kamu melepaskan melainkan
bagaimana kamu bertahan.

Mungkin akan tiba saatnya di mana kamu harus
berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang
itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita
menyadari bahwa orang iu akan lebih berbahagia
apabila kita melepaskannya.

kadangkala, orang yang paling mencintaimu adalah
orang yang tak pernah menyatakan cinta
kepadamu, karena takut kau berpaling dan
memberi jarak, dan bila suatu saat pergi, kau akan
menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau
sadari


Kamis, 27 November 2008
Diposting oleh AQiLLAH

CINTA

mawarAKU bicara perihal Cinta????…

Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia,
Walau jalannya sukar dan curam.
Dan pabila sayapnva memelukmu menyerahlah kepadanya.
Walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu.
Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya.
Walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimu bagai angin utara mengobrak-abrik taman.
Karena sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia

kan menyalibmu.

Sebagaimana dia ada untuk pertumbuhanmu, demikian pula dia ada untuk pemanakasanmu.

Sebagaimana dia mendaki kepuncakmu dan membelai mesra ranting-rantingmu nan paling lembut yang bergetar dalam cahaya matahari.
Demikian pula dia akan menghunjam ke akarmu dan mengguncang-guncangnya di dalam cengkeraman mereka kepada kami.
Laksana ikatan-ikatan dia menghimpun engkau pada dirinya sendiri.

Dia menebah engkau hingga engkau telanjang.
Dia mengetam engkau demi membebaskan engkau dari kulit arimu.
Dia menggosok-gosokkan engkau sampai putih bersih.
Dia merembas engkau hingga kau menjadi liar;
Dan kemudian dia mengangkat engkau ke api sucinya.

Sehingga engkau bisa menjadi roti suci untuk pesta kudus Tuhan.

Semua ini akan ditunaikan padamu oleh Sang Cinta, supaya bisa kaupahami rahasia hatimu, dan di dalam pemahaman dia menjadi sekeping hati Kehidupan.

Namun pabila dalam ketakutanmu kau hanya akan mencari kedamaian dan kenikmatan cinta.Maka lebih baiklah bagimu kalau kaututupi ketelanjanganmu dan menyingkir dari lantai-penebah cinta.

Memasuki dunia tanpa musim tempat kaudapat tertawa, tapi tak seluruh gelak tawamu, dan menangis, tapi tak sehabis semua airmatamu.

Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tiada memiliki, pun tiada ingin dimiliki; Karena cinta telah cukup bagi cinta.

Pabila kau mencintai kau takkan berkata, “Tuhan ada di dalam hatiku,” tapi sebaliknya, “Aku berada di dalam hati Tuhan”.

Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya Cinta, sebab cinta, pabila dia menilaimu memang pantas, mengarahkan jalanmu.

Cinta tak menginginkan yang lain kecuali memenuhi dirinya. Namun pabila kau mencintai dan terpaksa memiliki berbagai keinginan, biarlah ini menjadi aneka keinginanmu: Meluluhkan diri dan mengalir bagaikan kali, yang menyanyikan melodinya bagai sang malam.

Mengenali penderitaan dari kelembutan yang begitu jauh.
Merasa dilukai akibat pemahamanmu sendiri tenung cinta;
Dan meneteskan darah dengan ikhlas dan gembira.
Terjaga di kala fajar dengan hati seringan awan dan mensyukuri hari haru penuh cahaya kasih;

Istirah di kala siang dan merenungkan kegembiraan cinta yang meluap-luap;Kembali ke rumah di kala senja dengan rasa syukur;

Dan lalu tertidur dengan doa bagi kekasih di dalam hatimu dan sebuah gita puji pada bibirmu.